<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>OPINI LIVY LAURENS</title>
	<atom:link href="http://opinilivylaurens.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://opinilivylaurens.wordpress.com</link>
	<description>TULISAN-TULISAN DI MEDIA MASSA CETAK</description>
	<lastBuildDate>Fri, 22 Jan 2010 16:22:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='opinilivylaurens.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>OPINI LIVY LAURENS</title>
		<link>http://opinilivylaurens.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://opinilivylaurens.wordpress.com/osd.xml" title="OPINI LIVY LAURENS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://opinilivylaurens.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>A. SENI MUSIK</title>
		<link>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/a-seni-musik-2/</link>
		<comments>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/a-seni-musik-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 15:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujizatajaib</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. SENI MUSIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opinilivylaurens.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[SEMANGAT SUMPAH PEMUDA 1928: PEMUDA, MUSIK DAN NASIONALISME Oleh : Livy Laurens Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (28 Oktober 2009) Semangat Sumpah Pemuda 1928 menunjukkan bagaimana musik memberi energi bagi gerakan kebangsaan di kalangan pemuda. Sekarang, musik mendominasi kehidupan kaum muda lebih sebagai hobi dan hiburan. Mungkinkah nasionalisme anak muda dibangkitkan kembali lewat musik? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=51&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-52" title="Livy Laurens" src="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a>SEMANGAT SUMPAH PEMUDA 1928: PEMUDA, MUSIK DAN NASIONALISME</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh : Livy Laurens</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (28 Oktober 2009)</p>
<p>Semangat Sumpah Pemuda 1928 menunjukkan bagaimana musik memberi energi bagi gerakan kebangsaan di kalangan pemuda. Sekarang, musik mendominasi kehidupan kaum muda lebih sebagai hobi dan hiburan. Mungkinkah nasionalisme anak muda dibangkitkan kembali lewat musik?</p>
<p>Pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 bukan hanya dicanangkan sebuah pernyataan nasional yang dikenal dengan Sumpah Pemuda, namun dikumandangkan pula lagu ”Indonesia Raya” lewat gesekan biola Wage Rudolf Supratman. Lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia saat itu menjadi salah satu pembakar semangat nasionalisme. Hal itu tercium oleh pihak Penjajah Hindia Belanda sehingga dilarang dinyanyikan di pertemuan-pertemuan umum.</p>
<p>Betapa bermaknanya lagu itu sehingga MH Tamrin yang waktu itu menjabat sebagai anggota <em>Volksraad</em> menentang keras pelarangan tersebut (Soedarsono, 2002). Berkat protes itu, pemerintah kolonial akhirnya mengijinkan lagu ”Indonesia Raya” dinyanyikan di tempat-tempat tertutup dengan syarat tidak boleh dinyanyikan dengan lirik yang berbunyi ”Indonesia Raya, merdeka, merdeka”. Jadi saat itu liriknya berbunyi ”Indones, Indones, mulia, mulia”. Musik telah memberi energi luar biasa bagi gerakan kebangsaan Indonesia.</p>
<p>Pada jaman itu, tentu saja musik tidak hanya menjadi alat untuk membangkitkan nasionalisme. Namun karena pada era itu nasionalisme merupakan ”fokus kebudayaan” generasi muda maka musik yang berkembang pun bernafaskan semangat kebangsaan yang menggelora.</p>
<p>Situasi sekarang berbeda. Pada era Sumpah Pemuda 1928 dulu berkembanglah suatu semangat untuk mempersatukan beragam etnik di nusantara yang terepresentasi dalam berbagai kelompok kegerakan (Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, dan seterusnya) menjadi satu identitas tunggal yaitu Indonesia. Sekarang semangat yang tumbuh adalah pluralisme dan multikulturalisme yang bebasis budaya global. Tidak ada lagi identitas tunggal. Kehidupan manusia sekarang bernuansa ”hibrida”. Dalam hal berbahasa saja misalnya, anak-anak SD sekarang belajar banyak bahasa, ya bahasa Indonesia, ya bahasa jawa, ya bahasa Inggris, ya bahasa Mandarin. Jadi tidak ada lagi fanatisme terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa tunggal. Malahan di dunia maya bahasa Inggris merupakan bahasa pemersatu.</p>
<p>Kehidupan masa kini merupakan sebuah kehidupan global. Menurut Anthony D. Smith (2003), bangkitnya budaya global kosmopolitan akan semakin menelan dan mengikis budaya dan identitas nasional. Pada jaman komunikasi massa sekarang ini batas-batas negara sudah sangat kabur. Sekarang ini juga merupakan jaman migrasi massa. Sehingga, kita tidak lagi mempermasalahkan identitas nasional kita dari mana.</p>
<p>Fokus kebudayaan masyarakat sekarang tidak lagi pada perjuangan untuk menegakkan bangsa dan negara. Masyarakat masa kini lebih banyak diliputi budaya konsumerisme dan materialisme. Gaya hidup idealis tidak lagi menjadi sebuah nilai-nilai yang dibanggakan. Orang hanya berpikir praktis untuk mempertahankan hidup dengan segenap usaha untuk peningkatan pencapaian.</p>
<p>Kehidupan seperti di atas mempengaruhi perkembangan musik di kalangan anak muda. Musik sekarang, termasuk juga seni-seni yang lain, hanyalah sebagai hobi dan hiburan. Orang mendengarkan musik atau menonton pertunjukan musik untuk mendapatkan kenikmatan. Nilai seninya, apalagi filosofinya, tidak dipikirkan. Balutan budaya populer yang penuh gemerlap semakin menjauhkan musik dari tujuan-tujuan idealistik.</p>
<p>Pemuda pada tahun 1928-an dan pemuda pada hari ini memang sama-sama mengapresiasi musik. Bedanya, musik waktu itu menjadi salah satu alat pembangkit dan penyalur spirit kebangsaan. Sekarang, musik tinggallah sebuah alat hiburan dan sarana pencapai kenikmatan sesaat yang profan dan hedonis. Namun, peran musik dalam kehidupan pemuda sekarang sangat besar, mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Tiada hari tanpa musik.</p>
<p>Kuatnya dominasi musik populer dalam kehidupan tak pelak memunculkan singgungan dengan kehidupan yang lebih serius, misalnya politik. Namun, musik tetap saja berfungsi sebagai entertainment. Hal itu terlihat dari tampilnya para artis dalam kampanye-kampanye pemilu beberapa waktu silam. Kehadiran musik hiburan terbukti mampu mendongkrak penjaringan massa.</p>
<p>Dalam upaya-upaya membangkitkan nasionalisme pemuda, apakah musik sekedar menjadi hiburan pelengkap? Ketika Sumpah Pemuda dicanangkan, musik yang dilantunkan bukan sekedar sebagai entertainment. Musik waktu itu adalah alat pendidikan politik dan alat pemicu gerakan pemuda. Semestinya fungsi itu masih bisa diterapkan untuk masa kini.</p>
<p>Kuncinya adalah usaha penumbuhan musik-musik kebangsaan dan musisi-musisi nasionalis. Sebelum mencipta ”Indonesia Raya”, Wage Rudolf Supratman yang lahir pada 9 Maret 1903 adalah seorang wartawan yang senang bermain musik. Pada Kongres Pemuda I (1926) ia banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh pemuda kebangsaan sehingga terimpartasi oleh spirit nasionalisme yang sangat kuat. Itulah yang mendorongnya menciptakan lagu kebangsaan kita dan lagu-lagu bertema nasionalisme lainnya (”Ibu Kita Kartini”, ”Di TImur Matahari”, ”Mars Kepanduan Bangsa Indonesia”, ”Sang Wirawan”, dan lain-lain). Kita membutuhkan WR Supratman-WR Supratman masa kini, yaitu musisi-musisi berwawasan kebangsaan yang adalah aktivis-aktivis dalam gerakan-gerakan kebangsaan yang karyanya menjadi pemicu kebangkitan nasionalisme generasi muda.</p>
<p><strong><a href="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-merah-putih.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-55" title="Livy Laurens Merah Putih" src="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-merah-putih.jpg?w=201&#038;h=300" alt="" width="201" height="300" /></a>DARI WR SUPRATMAN SAMPAI COKELAT </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh : Livy Laurens</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (18 Agustus 2009)</p>
<p>”Merah putih teruslah kau berkibar. Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini. Merah putih teruslah kau berkibar. Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini. Merah putih teruslah kau berkibar. Ku akan selalu menjagamu.” (Cokelat)</p>
<p>Suasana peringatan dan perayaan Hari Kemerdekaan RI tak pernah lepas dari pertunjukan seni termasuk musik. Lagu kebangsaan Indonesia Raya serentak dikumandangkan di seluruh nusantara, bahkan di semua negara di Kedutaan-kedutaan Besar Indonesia di seluruh dunia. Belum lagi lagu-lagu kebangsaan dan lagu-lagu pop masa kini – seperti gubahan grup musik Cokelat di atas – menyemarakkan hari penuh makna itu.</p>
<p>Sejarah mencatat bagaimana seni musik menjadi sarana perjuangan politik. Adalah Wage Rudolf Supratman, seorang wartawan nasionalis yang senang bermain musik. Hatinya berkobar setelah berkenalan dengan pejuang-pejuang muda pada Kongres I Pemuda Indonesia (1926). Lalu, pada tahun itu pula ia mencipta lagu yang dulu judulnya hanya ”Indonesia”. Pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, Supratman melantunkan lagu itu lewat gesekan biolanya dengan tanda sukat 6/8 dalam tanda kunci C. Menurut catatan Soedarsono (2002), lagu yang menggetarkan hati banyak orang waktu itu kemudian ditetapkan dan diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia pada 1929 dengan diberi judul baru ”Indonesia Raya”. Pada 1944, kunci lagu itu diubah dari C ke G supaya bisa dinyanyikan dengan lebih enak.</p>
<p>Karena lagu itu, Supratman menjadi incaran Pemerintah Penjajah Belanda. Lagu itu pun dilarang dinyanyikan di pertemuan umum. Setelah MH Tamrin melawan dengan keras, akhirnya pemerintah kolonial membolehkannya dinyanyikan di ruangan tertutup dengan tanpa mengucapkan lirik-lirik ”merdeka-merdeka”, hanya ”mulia-mulia”. Namun sejarah mencatat bagaimana lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” akhirnya benar-benar dimuliakan saat berusia seperempat abad lebih. Pada 28 Oktober 1953, lagu ini diperingati secara besar-besaran. Sepuluh ribu pelajar menyanyikan lagu ini di lapangan Gambir dengan diiringi orkes angklung Parahiangan, orkes seruling Maluku, dan orkes Musik Kepolisian Negara.</p>
<p>Perjalanan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” membuktikan bagaimana seni dan musik bisa menjadi alat perjuangan yang efektif. Di masa Orde Baru kita juga melihat bagaimana para seniman berjuang melalui musik. Melalui musik pulalah rasa nasionalisme berkembang. Dan, sama seperti WR Supratman, para seniman yang berjuang lewat seni dan musik menjadi incaran ”penjajah”.</p>
<p><strong>Barat atau Universal?</strong></p>
<p>Menurut Soedarsono (2002), lahirnya lagu-lagu bertema nasional Indonesia didorong oleh pengaruh kesenian Barat yang semakin kuat. Pengaruh musik Barat itu bahkan mewarnai budaya dan seni tradisional Jawa. Misalnya, komposisi-komposisi gending dan lagu tari putri Bedaya dan Serimpi dari Kraton Yogyakarta terdapat instrumen-instrumen musik Barat seperti genderang, trombon, terompet, dan klarinet.</p>
<p>Jadi, menuju kemerdekaannya, di satu sisi bangsa Indonesia melawan kekuatan Barat (politik penjajahan Kolonial Belanda). Namun, di sisi lain, bangsa kita menerima penetrasi pengaruh (seni dan musik) Barat tersebut. Dan kita malah memakai budaya Barat itu untuk mengembangkan lagu-lagu perjuangan nasional. Barangkali inilah titik perpindahan dari ”imperialisme politik” menuju ”imperialisme kultural”. Di satu pihak kita mengusir penjajah Belanda namun di lain pihak kita menerima pengaruh kultural (seni dan musik) Barat.</p>
<p>Meskipun demikian, kita tidak bisa semata-mata menilainya demikian. Memang benar kalau musik dengan sistem tangga nada diatonis itu berasal dari Barat. Tetapi musik diatonis, sama dengan musik-musik etnis, pada dasarnya adalah kebudayaan universal umat manusia. Itulah sebabnya dalam menciptakan lagu kebangsaaan, Supratman menggunakan musik diatonis, bukan dengan misalnya <em>slendro</em> atau <em>pelog</em>, untuk mengembangkan kebudayaan nasional (Soedarsono, 2002). Bukan masalah Barat atau etnis, tetapi musik secara universal.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kebudayaan Populer</strong></p>
<p>Pergulatan yang mirip terjadi pula sekarang. Timbul pertanyaan apakah kalau kita ingin memajukan kebudayaan Indonesia harus mengedepankan seni dan musik etnis atau tradisional saja? Kebudayaan asli kita pastinya harus dikembangkan dan dilestarikan. Tetapi, kebudayaan masa kini yang bersifat populer (<em>pop culture</em>) bisa juga dipakai karena sifatnya universal.</p>
<p>Memang terkadang terjadi masalah dengan kebudayaan populer sebab sering hanya menekankan hal-hal yang sifatnya <em>entertaining</em> dengan kurang mengutamakan kedalaman nilai-nilai dan filosofi. Ketika kebudayaan populer dipakai untuk mengusung spirit nasionalisme acapkali terjadi banyak benturan. Sebab, nasionalisme seringkali diidentikkan dengan hal-hal sakral, mulia, luhur, agung, dan penuh martabat. Sementara, kebudayaan populer sebaliknya. Di AS, cinta bangsa diekspresikan bebas misalnya pernah dalam Pilpres kemarin ditampilkan wanita-wanita berpakaian bikini dengan motif bendera Amerika. Atau di Inggris, lagu kebangsaan ”<em>God Save The Queen</em>” dinyanyikan dengan irama musik yang sangat nge-pop.</p>
<p>Meskipun demikian, bila tetap menghormati martabat bangsa dan negara, kebudayaan populer termasuk musik pop jelas bisa sangat efektif dipakai untuk menanamkan semangat nasionalisme. Buktinya, pada 2006 silam grup band Cokelat sukses merilis album bertajuk ”Untukmu Indonesia” yang menampilkan lagu-lagu bertema cinta tanah air. Ternyata, masyarakat dan kawula muda pun menyukainya. Kita membutuhkan lebih banyak seniman yang bisa memanfaatkan kebudayaan populer untuk membangkitkan rasa kebangsaan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/opinilivylaurens.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/opinilivylaurens.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/opinilivylaurens.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/opinilivylaurens.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/opinilivylaurens.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/opinilivylaurens.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/opinilivylaurens.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/opinilivylaurens.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/opinilivylaurens.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/opinilivylaurens.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/opinilivylaurens.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/opinilivylaurens.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/opinilivylaurens.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/opinilivylaurens.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=51&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/a-seni-musik-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67becbefa5487e564c17fdd0122c5b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujizatajaib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">Livy Laurens</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-merah-putih.jpg?w=201" medium="image">
			<media:title type="html">Livy Laurens Merah Putih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>B. SENI RUPA</title>
		<link>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/b-seni-rupa/</link>
		<comments>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/b-seni-rupa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 15:40:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujizatajaib</dc:creator>
				<category><![CDATA[B. SENI RUPA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opinilivylaurens.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[BIENNALE MEMBRANDING CITRA YOGYA Oleh : Livy Laurens Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (13 Januari 2010) Perhelatan seni bertajuk Biennale X di Yogya selama sebulan penuh telah usai. Walikota H Herry Zudianto yang menilai kegiatan ini sukses besar berharap supaya karya-karya seni instalasi yang dipajang selama musim seni itu tetap dipajang supaya menjadi ciri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=46&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-berfoto-di-brenggaris-kaltim.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-47" title="Livy Laurens berfoto di Brenggaris, Kaltim" src="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-berfoto-di-brenggaris-kaltim.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>BIENNALE MEMBRANDING CITRA YOGYA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh : Livy Laurens</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (13 Januari 2010)</p>
<p>Perhelatan seni bertajuk Biennale X di Yogya selama sebulan penuh telah usai. Walikota H Herry Zudianto yang menilai kegiatan ini sukses besar berharap supaya karya-karya seni instalasi yang dipajang selama musim seni itu tetap dipajang supaya menjadi ciri khas kota Yogya (<em>KR</em>, 11-1-2010). Tulisan ini juga merupakan apresiasi atas keberhasilan tersebut.</p>
<p>Selama sebulan kemarin warga Yogya benar-benar disuguhi dengan apa yang disebut sebagai karya-karya seni. Di tengah hiruk pikuk jalanan yang semakin sesak oleh banyaknya kendaraan, kita bisa melihat beberapa karya seni instalasi yang berdiri unik di tempat-tempat tertentu. Ada yang lucu, menarik, rumit, harmonis, aneh, dan sebagainya. Semua mengandung unsur keindahan meski tidak semua orang memahami makna yang hendak diungkapkan para kreatornya. Setidaknya masyarakat dihibur, diajak merenung, dan dipicu nuraninya untuk memikirkan ulang kehidupan.</p>
<p>Perhelatan Biennale memang selalu menyajikan seni secara kreatif. Kehidupan sehari-hari dan ruang publik menjadi wahana untuk memamerkan karya-karya seni. Masyarakat tidak harus pergi ke museum atau gedung pameran atau rumah seni untuk menikmatinya. Seni adalah milik rakyat, bukan komoditas milik kapitalis. Seni adalah kehidupan itu sendiri, sebuah kebutuhan sehari-hari yang mudah dijangkau. Harapannya, seni menjadi milik diri masyarakat yang terinternalisasi dalam jiwa.</p>
<p>Secara praktis, agenda Biennalle X yang mengambil waktu sebulan di akhir dan awal tahun itu turut meramaikan suasana wisata di Yogya. Para pelancong yang datang ke Yogya senang. Sejauh pengamatan penulis, banyak yang berpose di depan pajangan karya-karya seni instalasi itu untuk diambil fotonya. Pastinya dokumentasi itu akan tersebar ke mana-mana. Para pelancong itu juga akan menceritakan pengalaman seni mereka dari mulut ke mulut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>City Branding</strong></p>
<p>Event Biennale X dengan penampilan karya-karya seninya di ruang-ruang publik itu telah memperkuat citra Yogya sebagai kota seni budaya. Apa yang menyeruak di ruang publik memberikan imej tak terlupakan mengenai citra sebuah kota. Ketika sampah atau gepeng (gelandangan dan pengemis) lebih mewarnai misalnya, kota akan dinilai sebagai kawasan kumuh. Ketika kota marak dengan gedung-gedung mal dan baliho-baliho iklan misalnya, orang langsung menilai bahwa kapitalisme sedang menggusur mereka yang mengais-ngais rejeki di sektor informal.</p>
<p>Dalam konteks pemasaran (marketing) sebuah kota, tentu pencitraan (<em>city branding</em>) sangat penting. Kota-kota di seluruh dunia berlomba-lomba membranding citranya sedemikian rupa untuk menarik minat para wisatawan, investor, pebisnis, dan sumber-sumber daya lainnya. Salah satu cara yang sering dilakukan adalah dengan menciptakan sebutan, julukan, motto, semboyan seperti ”Jogja Berhati Nyaman” dan ”<em>Never Ending</em> Jogja”. Contoh lainnya adalah “Paris Kota Cahaya”, “Roma Kota Abadi”, “New York Apel Besar”, dan “Singapore Uniquely Asia”. Menurut Tayebi (2006), kemampuan kota dalam mengkomunikasikan dirinya (membranding diri) seperti itu dapat mempengaruhi persepsi orang mengenai kehidupan dan keunggulan kota tersebut meskipun ia belum pernah mengunjungi kota tersebut. Menurut Hermawan Kertajaya, <em>city branding </em>akan meningkatkan derajat suatu kota. Menurutnya, dalam dinamika ekonomi, kota lebih menjadi fokus <em>branding</em> ketimbang negara sebab kegiatan ekonomi yang sebenarnya terjadi di kota-kota.</p>
<p>Manurut definisi dari <em>American Marketing Association</em> (AMA), <em>brand</em> adalah nama, tanda, symbol, disain, atau kombinasi seluruhnya yang bertujuan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dengan produk sejenis atau pesaingnya. Menurut Duncan (2005), <em>brand </em>mencakup citra dari sebuah produk karena berkaitan dengan kesan yang hidup di kepala dan hati para pelanggan (konsumen) tentang produk tertentu. Adapun produk itu menurut Kotler dalam Keller (2003) adalah segala sesuatu yang ditawarkan pada pasar untuk diperhatikan, diterima dan digunakan atau dikonsumsi untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan. Produk itu sendiri banyak jenisnya, mulai dari barang, toko retail, orang atau pribadi (musisi sampai politisi), jasa, organisasi, wilayah (kota, negara), sampai ide tertentu (ideologi, filosofi).</p>
<p>Seni dan karya-karya seni bisa dipakai untuk membranding citra kota. Aspek estetisnya sendiri sudah memberi pencitraan tersendiri. Apalagi jika karya-karya itu mengusung makna-makna yang bisa dipahami para pengamatnya, akan membangun pencitraan yang jelas bagi sebuah kota.</p>
<p>Karya-karya seni instalasi yang dipajang selama perhelatan Biennale X telah turut membranding citra Yogya. Bukan hanya citra tentang Yogya sebagai kota seni-budaya, namun juga citra Yogya sebagai kota yang kreatif, multikultur, filosofis, dan ramah. Seni menjadi alat pencitraan yang sangat efektif. Hampir semua proses marketing menggunakan sentuhan seni. Pajangan karya-karya seni di berbagai sudut kota jauh lebih efektif ketimbang pencitraan yang dilakukan dengan kata-kata. Masyarakat sudah jenuh dengan rekayasa kata-kata karena semakin banyaknya kebohongan dan janji-janji palsu. Seni mengkomunikasikan pesan lebih banyak dan memikat secara lebih efektif.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><a href="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-mengenakan-kain-doyo-khas-dayak-sebelum-syuting-untuk-album-pop-etnik-rijoq-kenangan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-48" title="Livy Laurens mengenakan kain Doyo khas Dayak sebelum syuting untuk album pop etnik Rijoq Kenangan" src="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-mengenakan-kain-doyo-khas-dayak-sebelum-syuting-untuk-album-pop-etnik-rijoq-kenangan.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>2 OKTOBER – HARI BATIK SEDUNIA: LANJUTKAN TRADISI DENGAN SENTUHAN KREATIF </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh : Livy Laurens</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (2 Oktober 2009)</p>
<p>Setelah seni budaya kita mengalami dirongrong bangsa lain, kini Indonesia boleh berbangga karena UNESCO (<em>United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization</em>) mengakui eksistensi batik Indonesia sebagai warisan pusaka dunia. Peningkatan peringatan Hari Batik Nasional menjadi Hari Batik Sedunia pada 2 Oktober 2009 ini semestinya menjadi momen tepat untuk melanjutkan tradisi dengan sentuhan kreatif.</p>
<p>Batik khas Indonesia pada dasarnya merupakan karya seni tradisional. Menurut Ensiklopedi Indonesia (1980), batik adalah lukisan di atas kain yang diciptakan dengan cara melapisi bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin (malam). Jika hendak membatik tangan, kain yang akan dilukisi itu dipasang pada rak. Cara membatiknya adalah dengan memakai canting (alat pencedok lilin yang sudah dipanaskan dengan api). Kain yang telah dilapisi lilin itu dicelup ke dalam zat pewarna sesuai yang dikehendaki. Lalu lilin dihilangkan dengan penggodokan atau dengan zat pelarut benzena. Proses itu diulangi untuk setiap warna yang akan digunakan.</p>
<p>Batik merupakan seni kerajinan khas Indonesia. Cara pemberian warna dalam proses pembatikan ini sudah dikenal sejak abad ke-8. Kerajinan batik telah lama berkembang di Pekalongan, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Tegal, Ponorogo, Banyumas, dan juga Madura. Karena itu tidak fair jika negara tetangga kita mengklaimnya sebagai karya budaya asli mereka.</p>
<p>Sebagai seni lukis tradisional, batik Indonesia mempunyai rujukan-rujukan, pakem-pakem, material-material, dan visualisasi-visualisasi tertentu. Motif-motif batik Surakarta dan Yogyakarta misalnya, sudah mempunyai pola-pola khas yang khusus. Apalagi terkait dengan kebudayaan Jawa yang penuh simbol-simbol sarat makna.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dinamika Batik</strong></p>
<p>Sebagai karya seni dan bahan fesyen, batik berkembang mengikuti kemajuan jaman. Dari segi teknik pembuatan, disamping ada batik tangan ada pula batik cap. Dari segi motif gambar, juga berkembang terus. Menurut catatan kurator Inda C Noerhadi, perkembangan motif-motif batik di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Cina, Hindu, dan Islam. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pesan-pesan nasionalisme juga diungkapkan lewat batik. Dulu, Presiden Soekarno menjadikan batik sebagai busana nasional (kain panjang batik dengan kebaya pendek dari bahan renda, viole kembang, atau bahan tipis lainnya). Presiden Soekarno juga mendorong inovasi-inovasi batik lainnya.</p>
<p>Menurut Noerhadi, di Indonesia telah muncul banyak inovator seni batik. Bintang Sudibyo adalah seorang parancang kain batik yang berhasil menciptakan variasi baru pola-pola motif batik Vorstenlanden (kerajaan-kerajaan Jawa). Idenya terilhami dari relief candi-candi Hindu di Jawa. Sementara itu Harjono Gotik Swan (KRT Harjonagoro) memadukan gaya Vorstenlanden dengan gaya pesisir utara. Adapun Iwan Tirta terus mengembangkan variasi-variasi batik gaya kraton Cirebon.</p>
<p>Usaha untuk melanjutkan tradisi perbatikan di Indonesia sebenarnya cukup gencar dilakukan. Pada 1974 misalnya, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mensosialisasikan kemaja batik lengan panjang sebagai busana resmi. Pakaian resmi PNS yang dipakai pada era Orde Baru (baju Korpri) juga bernuansa batik. Sekarang, setelah batik dicoba diambil alih oleh bangsa lain, semestinya kita semakin gencar untuk mempopulerkannya di negeri sendiri.</p>
<p>Untuk bisa bertahan dan bahkan terus nge-trend di masa sekarang, tradisi seni batik bukan hanya perlu dilanjutkan namun dikembangkan secara kreatif. Hal itu penting sebab sekarang batik harus bersaing ketat dengan berbagai macam produk seni fesyen yang sangat kreatif.</p>
<p>Sekarang, tanpa sentuhan kreatif, batik tentunya sulit memenangi persaingan trend fesyen global. Majalah mode internasional seperti <em>Elle</em> dan <em>Vogue</em> yang diterbitkan dalam berbagai bahasa terus-menerus mempromosikan gaya busana internasional. Sementara anak-anak muda di seluruh dunia senantiasa tergiring mengikuti mode dunia yang paling mutakhir. Menurut catatan Naisbitt (1990), Cina yang semula sangat tertutup pun sudah dilanda trend mode dunia. Kini banyak wanita muda mengenakan <em>spagheti-strap sundress</em>, celana panjang, stoking, jeans, dan rok mini nan seksi.</p>
<p>Namun berbarengan dengan globalisasi mode, seluruh dunia sekarang meminati keunikan-keunikan fesyen. Buktinya sekarang butik dan distro produk fesyen ”indi” merebak bak jamur di musim penghujan. Masyarakat tidak lagi suka dengan produk-produk yang umum di pasaran. Orang ingin menjadi unik dengan pakaian unik yang tidak mudah ditemui di pasaran. Ini merupakan peluang besar bagi seni fasyen batik, apalagi batik tulis dengan motif-motif unik yang jelas tidak bisa ditemukan duplikatnya. Kecuali itu, Naisbitt (1990) melihat adanya trend kebangkitan seni (renaisans seni) global pada era 2000-an. Karya-karya seni unik kini sangat laku dan diminati. Ketika seni batik dikembangkan dengan sentuhan kreatif, bukan hanya akan lestari tetapi bisa menjadi trend dunia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/opinilivylaurens.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/opinilivylaurens.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/opinilivylaurens.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/opinilivylaurens.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/opinilivylaurens.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/opinilivylaurens.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/opinilivylaurens.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/opinilivylaurens.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/opinilivylaurens.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/opinilivylaurens.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/opinilivylaurens.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/opinilivylaurens.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/opinilivylaurens.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/opinilivylaurens.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=46&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/b-seni-rupa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67becbefa5487e564c17fdd0122c5b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujizatajaib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-berfoto-di-brenggaris-kaltim.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Livy Laurens berfoto di Brenggaris, Kaltim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-mengenakan-kain-doyo-khas-dayak-sebelum-syuting-untuk-album-pop-etnik-rijoq-kenangan.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Livy Laurens mengenakan kain Doyo khas Dayak sebelum syuting untuk album pop etnik Rijoq Kenangan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>C. FILM</title>
		<link>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/c-film/</link>
		<comments>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/c-film/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 15:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujizatajaib</dc:creator>
				<category><![CDATA[C. FILM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opinilivylaurens.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[KETIKA FILM HOROR MEREBAK Oleh : Livy Laurens Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (21 November 2009) Halaman depan Harian Kedaulatan Rakyat edisi Sabtu 14 November 2009 kemarin unik karena dihiasi foto bersama ‘para hantu’ yang menyeramkan. Ternyata itu adalah foto aksi teatrikal di Bundaran HI Jakarta yang menyerukan agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membatasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=42&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-syuting-di-kota-depok.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-44" title="Livy Laurens syuting di Kota Depok" src="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-syuting-di-kota-depok.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>KETIKA FILM HOROR MEREBAK</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh : Livy Laurens</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (21 November 2009)</p>
<p>Halaman depan Harian <em>Kedaulatan Rakyat </em>edisi Sabtu 14 November 2009 kemarin unik karena dihiasi foto bersama ‘para hantu’ yang menyeramkan. Ternyata itu adalah foto aksi teatrikal di Bundaran HI Jakarta yang menyerukan agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membatasi penayangan film horor karena dikhawatirkan bisa merusak mental anak.</p>
<p>Aksi itu tentu dilatarbelakangi oleh kian merebaknya film-film horor di tanah air, khususnya di layar kaca yang bisa ditonton semua orang. Sebetulnya bukan hanya film horor, sekarang banyak jenis acara televisi yang berbau satanisme yang tidak mendidik karena tidak rasional dan berseberangan dengan pengajaran agama.</p>
<p>Persoalannya, mengapa semakin banyak saja produser memproduksi film-film horor dan program-program televisi bernuansa seperti itu? Alasan profit tentunya mengedepan karena itulah permintaan pasar kita. Terbukti acara-acara seperti itu meraih rating yang tinggi. Alasan lain adalah kreatifitas. Membuat film horor, supaya tak terkesan murahan, menuntut penggarapan dengan teknik termasuk teknik animasi yang cermat dan canggih. Bagi para seniman, film jenis ini menuntut penanganan artistik yang kompleks dengan keseriusan tersendiri.</p>
<p>Dengan demikian, merebaknya film horor dan tayangan-tayangan bernuansa satanisme itu justru memproyeksikan minat, keingintahuan, dan obsesi masyarakat terjadap dunia tersebut. Gejala apakah ini? <em>Pertama</em>, tekanan dan penderitaan hidup yang sekian lama mendera menyebabkan masyarakat mencari atau melarikan diri kepada hal-hal rohani yang ternyata bukan hanya agama namun juga sistem keyakinan lainnya (dunia gaib, paranormal, okultisme, satanisme, dan sebagainya). Para peneliti antropologi religi seperti M Crawley (1905) dan A van Gennep (1909) sejak lama menyimpulkan bahwa ketika manusia didera oleh berbagai macam krisis hidup maka ia akan berlari kepada hal-hal supranatural seperti percaya kepada roh-roh, dewa-dewa, termasuk orang-orang yang ahli di bidang seperti itu.</p>
<p><em>Kedua</em>, keadaan serba krisis di satu sisi dan kenyataan adanya ketimpangan sosial ekonomi di sisi lain, mendorong masyarakat mencoba meraih sukses dengan jalan pintas. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah jalan pintas yang sekarang beresiko penjara. Adapun jalan pintas lain adalah menggunakan kekuatan-kekuatan gaib. JG Frazer sebagaimana dikutip Koentjaraningrat (1985) mengatakan bahwa ketika akal budi menemui keterbatasannya untuk mengatasi masalah hidup, orang berlari kepada apa yang disebut magi (<em>magic</em>) yaitu teknik meraih sesuatu dengan kekuatan-kekuatan gaib.</p>
<p><em>Ketiga</em>, minat besar masyarakat terhadap hal-hal metafisik termasuk satanisme dilatarbekalangi oleh apa yang didentifikasi Naisbitt (1990) sebagai era kebangkitan religi yang terjadi sejak 1990-an. Menurutnya, religi bahkan bisa menjadi ”fokus kebudayaan” manusia modern yang sangat pluralistik yang cenderung merelatifkan semua ajaran agama sehingga mengakomodir semua aliran kepercayaan.</p>
<p>Sekarang, di luar kebangkitan agama-agama utama, berbagai aliran spiritual berkembang dengan luar biasa (Naisbitt dan Aburdene, 1990). Aliran spiritisme holistik Gerakan Abad Baru (<em>New Age Movement</em>) misalnya, bertumbuh dengan pesatnya. Kegandrungan masyarakat modern masa kini telah membuat paranormal-paranormal naik daun. Menurut penelitian Dr. J. Gordon Melton, editor dari <em>The Encyclopedia of American Religious</em>, di seluruh dunia ada ribuan tokoh paranormal yang mempunyai kemampuan menjadi saluran berbicara (medium) bagi mahluk-mahluk halus (arwah). Melton menemukan fakta bahwa salah satu pusat dari kegiatan paranormal-paranormal itu berada di New York, Los Angeles, dan San Fransisco. Pada tahun 1987, jumlah medium di Los Angeles diperkirakan ada 1.000 orang. Jack Pursel adalah seorang paranormal terkenal dari San Fransisco. Ia menjadi medium bagi roh penasihat bernama Lazaris. Karena kemampuan supranaturalnya itu, Pursel dicari orang dan berpenghasilan lebih dari US $ 1 juta per tahun!  J.Z. Knight adalah seorang paranormal wanita yang menjadi medium arwah bernama Ramtha. Orang-orang yang mengikuti seminar supranaturalnya rela membayar US $ 1.500.</p>
<p><strong>Edutainment</strong></p>
<p>Merebaknya berbagai kegiatan bermacam-macam aliran spiritual tak terelakkan. Ini merupakan tantangan bagi para pemimpin agama, para pendidik, dan para pembina kegiatan-kegiatan penyiaran publik seperti KPI. Sebab, kalau mau didaftarkan sisi negatifnya, film horor dan berbagai tayangan satanisme tentu banyak buruknya. Meskipun demikian jangan lantas menjadi paranoid sebab inilah konsekuensi dari tumbuhnya era pluralisme dan multikulturalisme. Apalagi di era informasi super canggih sekarang, tak ada film yang tak bisa ditonton, kalau tidak lewat televisi ya lewat internet, atau teknologi lainnya.</p>
<p>Tayangan atau kegiatan yang berbau horor sendiri mempunyai sisi positif bila dikemas sebagai hiburan yang mendidik (<em>edutainment</em>). Film kartun <em>Scoobido </em>selalu ada hantunya, tetapi intinya adalah kisah pembongkaran kejahatan manusia berkedok intimidasi horor. Grup musik ”Kuburan” yang kostumnya bernuansa horor ternyata selalu mengusung lagu-lagu menghibur bernuansa komedi, yang justru membuat orang tidak lagi takut dengan setan. Tema-tema horor sebenarnya juga bisa dipakai untuk memberikan pelajaran agama yang positif yang menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena agama itu sendiri berurusan dengan dunia supranatural. <em> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/opinilivylaurens.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/opinilivylaurens.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/opinilivylaurens.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/opinilivylaurens.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/opinilivylaurens.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/opinilivylaurens.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/opinilivylaurens.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/opinilivylaurens.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/opinilivylaurens.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/opinilivylaurens.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/opinilivylaurens.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/opinilivylaurens.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/opinilivylaurens.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/opinilivylaurens.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=42&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/c-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67becbefa5487e564c17fdd0122c5b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujizatajaib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-syuting-di-kota-depok.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Livy Laurens syuting di Kota Depok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>D. KAUM MUDA</title>
		<link>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/d-kaum-muda/</link>
		<comments>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/d-kaum-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 15:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujizatajaib</dc:creator>
				<category><![CDATA[D. KAUM MUDA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opinilivylaurens.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[MEMBINA REMAJA SEBAGAI POTENSI BANGSA Oleh : Livy Laurens Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (11 Agustus 2009) Di tengah keterpurukan bangsa ini, ternyata remaja-remaja kita justru mencuatkan nama Indonesia di kancah dunia. Dalam beberapa kali kompetisi Olimpiade Sains misalnya, pelajar-pelajar kita berhasi meraih prestasi-prestasi yang sangat memuaskan. Medali-medali emas-perak-perunggu yang mereka persembahkan menunjukkan betapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=38&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-bersama-remaja-remaja-dayak-di-mahakam.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-39" title="Livy Laurens bersama remaja-remaja Dayak di Mahakam" src="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-bersama-remaja-remaja-dayak-di-mahakam.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>MEMBINA REMAJA SEBAGAI POTENSI BANGSA </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh : Livy Laurens</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (11 Agustus 2009)</p>
<p>Di tengah keterpurukan bangsa ini, ternyata remaja-remaja kita justru mencuatkan nama Indonesia di kancah dunia. Dalam beberapa kali kompetisi Olimpiade Sains misalnya, pelajar-pelajar kita berhasi meraih prestasi-prestasi yang sangat memuaskan. Medali-medali emas-perak-perunggu yang mereka persembahkan menunjukkan betapa remaja merupakan potensi bangsa yang sangat besar.</p>
<p>Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah menetapkan Peringatan Hari Remaja Sedunia (<em>International Youth Day</em>) atau IYD melalui Resolusi nomor 54/120 yang ditandatangani pada tahun 1999. Tema-tema IYD yang diangkat oleh PBB ternyata banyak menyoroti remaja sebagai sumber daya manusia yang potensial. Misalnya pada 2002 diangkat tema <em>Now and for the Future: Youth Action for Sustainable Development</em>. Kemudian pada 2007 diangkat tema <em>Bee Seen, Be Heard: Youth Participation for Development</em>. Kedua tema itu saja sudah menunjukkan pengakuan dunia akan potensi dan kotribusi para remaja bagi pembangunan.</p>
<p><strong>Remaja: Masalah Pembangunan</strong></p>
<p>Masyarakat terkadang cenderung melihat atau mengidentikkan remaja sebagai masalah pembangunan. Orang mudah mengaitkan remaja dengan kenakalan remaja, tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan macam-macam deviasi sosial lainnya. Orangtua yang kesal dengan anak-anaknya juga cenderung melihat remaja sebagai biang berbagai masalah.</p>
<p>Di mana pun di seluruh dunia, gejala perilaku menyimpang remaja memang terjadi. Di Amerika Serikat, sebagaimana dicatat <em>Josh McDowell</em>, setiap hari ada 1.106 remaja putri melakukan aborsi, 4.219 remaja terjangkit penyakit menular seksual (PMS), 500 remaja mulai mengkonsumsi obat-obatan terlarang, 1.000 remaja mulai minum alkohol, 2.200 remaja drop out (DO) dari sekolahnya, dan 3.610 remaja terlihat dalam berbagai-bagai konflik yang melukai dirinya. Di Indonesia, soal narkoba misalnya, sekitar 4 juta penduduk Indonesia terlibat dalam penyalahgunaan zat-zat terlarang ini. Negara merugi Rp 65 milyar setiap hari atau Rp 23,6 trilyun setiap tahun. Dari jutaan korban narkoba itu, 85% di antaranya adalah kaum muda termasuk remaja.</p>
<p>Fakta-fakta itu, ditambah pencitraan media, semakin memiringkan imej tentang remaja. Mereka dicitrakan sebagai generasi yang suka hura-hura, bebas, tak mau diatur, materialis, dan hedonis. Kelekatan remaja dengan kebudayaan populer (<em>pop culture</em>) menambah kesan mereka sebagai kaum yang jauh dari nilai-nilai, etika, moralitas, dan agama.</p>
<p>Sekalipun memang benar bahwa remaja seringkali bergulat dengan berbagai permasalahan seperti terungkap dari data yang oleh <em>McDowell</em> disebut sebagai “<em>statistical horror story</em>” di atas, pendekatan dengan memposisikan remaja sebagai sumber masalah adalah tidak <em>fair</em>. Sebab, dengan perspektif seperti itu, remaja melulu ditempatkan sebagai obyek, sebagai “pasien”, sebagai biang masalah, dan sebagai “terdakwa” sosiologis. Karena cara pandang seperti itu maka orangtua, guru, dan Pemerintah cenderung bersikap menggurui, menghakimi, mengatur, mengendalikan, mengontrol, dan memaksa remaja untuk berperilaku normatif.</p>
<p>Pendekatan itu bukan hanya tidak manusiawi tetapi tidak efektif untuk membangun kejiwaan para remaja. Remaja yang memasuki periode peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa sangat rentan. Psikolog menyebutnya sebagai masa badai dan tekanan (<em>storm and stress</em>). Mereka sedang mencari-cari jati diri. Dengan demikian mereka sangat butuh untuk dimengerti, diapresiasi, dan didukung. Pendekatan yang cenderung ”<em>judgemental</em>” justru akan memicu pemberontakan. Semakin ditekan, remaja semakin melawan.<em> </em></p>
<p><strong>Remaja: Potensi Pembangunan</strong></p>
<p>Pendekatan yang lebih memanusiakan adalah pendekatan dengan melihat remaja sebagai sumber daya manusia (SDM) yang potensial. Dengan perspektif ini, kita melihat semua masalah mereka sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Gonjang-ganjing dalam hidup remaja terjadi sebagai bagian dari transisi kejiwaan dan bagian dari proses pencarian jati diri. Dalam banyak hal itu merupakan bagian dari kreativitas untuk mencoba-coba hal-hal baru sampai menemukan identitas diri yang cocok.</p>
<p>Pendekatan ini akan mendorong orangtua dan guru membantu remaja menemukan potensi dirinya. Remaja yang senang ngobrol dan main misalnya, bisa jadi mempunyai potensi kecerdasan interpersonal (<em>interpersonal intelligence</em>). Remaja yang suka menyendiri dan tertutup misalnya, mungkin memiliki kecerdasan intrapersonal (<em>intrapresonal intelligence</em>). Remaja yang gandrung mengembara misalnya, barangkali mempunyai kecerdasan natural (<em>natural intelligence</em>). Artinya, apa-apa yang terekspresi sebagai perilaku-perilaku yang secara normatif terkategori negatif mungkin justru mengindikasikan adanya potensi-potensi terpendam. Tinggal bagaimana diarahkan dan dibina. Remaja yang suka balapan liar misalnya, bisa diarahkan menjadi pembalap profesional yang hebat. Remaja yang suka disko misalnya, bisa dilatih menjadi DJ (<em>disco jockey</em>) atau penari modern (<em>modern dancer</em>) yang hebat.</p>
<p>Sistem pendidikan kita semestinya membantu remaja untuk menggali, menemukan, dan menumbuhkan potensi-potensi unik mereka yang terpendam. Sayangnya pelajaran-pelajaran di sekolah dibakukan sedemikian rupa sehingga sebenarnya justru membatasi perkembangan potensi remaja. Mereka yang tidak menonjol dalam pelajaran-pelajaran di sekolah dinilai sebagai kurang berpotensi. Padahal, seperti dikatakan <em>Gardner</em>, kecerdasan itu banyak jenisnya, bukan hanya kecerdasan ber-matamatika saja. Jika potensi-potensi itu tumbuh, remaja bisa memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/opinilivylaurens.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/opinilivylaurens.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/opinilivylaurens.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/opinilivylaurens.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/opinilivylaurens.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/opinilivylaurens.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/opinilivylaurens.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/opinilivylaurens.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/opinilivylaurens.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/opinilivylaurens.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/opinilivylaurens.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/opinilivylaurens.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/opinilivylaurens.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/opinilivylaurens.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=38&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/d-kaum-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67becbefa5487e564c17fdd0122c5b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujizatajaib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-bersama-remaja-remaja-dayak-di-mahakam.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Livy Laurens bersama remaja-remaja Dayak di Mahakam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>E. MEDIA</title>
		<link>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/e-media/</link>
		<comments>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/e-media/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 15:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujizatajaib</dc:creator>
				<category><![CDATA[E. MEDIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opinilivylaurens.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[SEJARAH RRI DAN KEISTIMEWAAN YOGYA Oleh : Livy Laurens Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (10 September 2009) Sejarah Radio Republik Indonesia (RRI) tidak bisa dilepaskan dari keistimewaan Yogyakarta. Dari RRI Yogyalah api semangat kebangsaan digemakan sehingga mendapat reaksi keras dari musuh. Yogya kemudian menjadi pusat perjuangan radio karena menjadi ibukota RI. Sejarah keistimewaan Yogya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=35&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-saat-syuting-untuk-program-tv-kabel-di-jawa-barat.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-36" title="Livy Laurens saat syuting untuk program tv kabel di Jawa Barat" src="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-saat-syuting-untuk-program-tv-kabel-di-jawa-barat.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>SEJARAH RRI DAN KEISTIMEWAAN YOGYA </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh : Livy Laurens</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (10 September 2009)</p>
<p>Sejarah Radio Republik Indonesia (RRI) tidak bisa dilepaskan dari keistimewaan Yogyakarta. Dari RRI Yogyalah api semangat kebangsaan digemakan sehingga mendapat reaksi keras dari musuh. Yogya kemudian menjadi pusat perjuangan radio karena menjadi ibukota RI.</p>
<p>Sejarah keistimewaan Yogya sangat  berkaitan dengan peran teknologi radio. Setelah mendengar kabar tentang Proklamasi 17 Agustus 1945 dari siaran radio, Sri Sultan HB IX, Sri Paku Alam VIII, dan KRT Honggowongso mengirim kawat kepada Presiden Soekarno untuk menyatakan bahwa Nagari Yogya (Kasultanan dan Pakualaman) bergabung dengan RI. Di kemudian hari, dari radio pulalah HB IX mendengar kabar tentang akan datangnya tim dari PBB sehingga dapat menggagas ide tentang Serangan Umum 1 Maret 1949.</p>
<p>Pada masa itu, radio menjadi teknologi informasi andalan. Hal itu benar-benar disadari sehingga setelah Proklamasi itu rakyat Yogya mengamankan stasiun pemancar dan alat-alat radio yang penting supaya tidak dibawa lari oleh Jepang. Pengambilalihan kekuatan radio juga dilakukan di mana-mana. Pada 18 Agustus 1945 misalnya, rakyat mengambil alih radio milik Jepang di Bandung (Bandung Radio Hosokyoku) untuk menyiarkan naskah Proklamasi RI. Akhirnya, setelah semua stasiun pemancar radio direbut, dicanangkanlah secara resmi Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945 di Jakarta.</p>
<p><strong>Menggelorakan Nasionalisme</strong></p>
<p>Sejarah mencatat bagaimana semangat kebangsaan Indonesia digelorakan dari RRI Yogya. Setelah menyatakan bergabung dengan RI, mendapatkan Piagam Kedudukan, dan menegaskan posisi Yogya sebagai daerah istimewa di dalam NKRI dengan Amanat 5 September 1945, Yogya bangkit menjadi penggerak api nasionalisme. Siaran-siaran yang dipancarkan dari RRI Yogya semakin populer. Terutama program-program acara yang bertujuan membangkitkan semangat juang di bawah asuhan Bung Tomo dan Bung Tarjo. Pihak musuh, Tentara Sekutu segera mencap RRI Yogya sebagai ekstremis yang harus dihancurkan.</p>
<p>RRI Yogya pun menjadi sasaran pengeboman. Pada Minggu 25 Oktober 1945 jam delapan pagi, dua pesawat pembom Sekutu terbang di atas Yogya untuk menyebar selebaran-selebaran berisi ancaman pengeboman atas gedung RRI. Seperempat jam kemudian, mereka benar-benar mengebom gedung RRI Yogya. Untungnya pemancar-pemancar selamat dan para pegawai bisa lolos. Setelah itu, RRI Yogya tetap berjuang dan dibom lagi. Malam sesudah serangan itu, para penyiar tetap mengudara untuk membakar semangat juang. Akibatnya, pada 27 Oktober 1945 pesawat-pesawat Sekutu membom lagi. Kali ini terjadi banyak kerusakan parah.</p>
<p>Para pegawai dan penyiar RRI Yogya terus berjuang. Alat-alat yang selamat diamankan dan disembunyikan di beberapa tempat seperti di Puro Pakualaman, di asrama CPM Gondolayu, di rumah-rumah di Terban Taman, Patangpuluhan, dan Ngadinegaran. Salah satu alat vital berkekuatan 3,5 KW berhasil selamat sehingga bisa memancarkan siaran sampai ke luar negeri.</p>
<p>Begitu suasana reda, para angkasawan RRI Yogya mengudara kembali. Menggelorakan terus semangat kebangsaan melalui corong radio dari stasiun radio darurat di kawasan Terban Taman. Kemudian, RRI Yogya memakai rumah-rumah nomor 6, 8, dan 10 di Secodiningratan. Rumah nomor 8 dipakai sebagai studio siaran dan ruang kontrol. Rumah nomor 6 untuk kantor. Dan rumah nomor 10 untuk mess pegawai RRI dan untuk siaran ke luar negeri.</p>
<p><strong>Pusat Perjuangan Radio</strong></p>
<p>Komitmen DIY pada RI dan gelora nasionalisme yang terpancar dari Yogya dengan begitu kuatnya mendorong Soekarno-Hatta memindahkan ibukota RI ke Yogya setelah Jakarta tidak lagi kondusif. Sejak 4 Januari 1946, Yogya menjadi ibukota RI. Karena itu, pusat penyiaran RRI nasional yang semula berada si Solo kemudian dipindahkan ke Yogya. Dengan sendirinya RRI Yogya mempunyai status istimewa karena melayani kepentingan Pemerintah RI yang harus diikuti oleh daerah-daerah lain di seluruh nusantara. Dalam buku ”Republik Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diterbitkan Kementerian Penerangan (1953) dilaporkan bahwa meskipun waktu itu kekuatan pemancar-pemancar Yogya hanya kurang lebih seperempat KW untuk siaran dalam negeri dan 3,5 KW untuk siaran luar negeri, suaranya kedengaran jelas dari berbagai tempat di Indonesia dan di luar negeri.</p>
<p>Giatnya RRI Yogya waktu itu mendorong kreatifitas untuk berkomunikasi. Atas inisiatif Sri Paku Alam VIII, RRI Yogya, dan Jawatan Penerangan, diadakan kegiatan penyiaran berita via telepon sejak Oktober 1947. Setiap hari selama sejam (dari 17.00 – 18.00 WIB) disebarkan berita-berita dengan perantaraan telepon dari Yogya (ibukota RI) ke berbagai daerah di Indonesia. Tim teknis dari RRI Yogya melakukan modifikasi sehingga kalau telepon diangkat maka suaranya dapat didengarkan oleh tiga atau empat orang. Inilah yang kemudian dikenal sebagai ”siaran radio zonder gelombang”.</p>
<p>Perjuangan para angkasawan RRI Yogya diuji manakala Belanda menyerbu Yogya pada 19 Desember 1948. RRI Yogya berhasil dikuasai Belanda. Untungnya sudah ada pemancar rahasia di Playen Gunung Kidul. Sayangnya Belanda berhasil merangsek dan merusak alat-alat di Playen itu sehingga para petugas pun menyelamatkan diri dan terus bergerilya. Namun, RRI tidak pernah menemui ajalnya. Pada 30 Mei 1949, sebulan sebelum ”Yogya Kembali”, atas perintah Kementerian Penerangan dibentuk panitia radio yang kemudian bertugas menerima penyerahan kantor radio dari Belanda. Demikianlah sejarah RRI dalam perjuangan Indonesia di DIY. Sekali di udara tetap di udara</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/opinilivylaurens.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/opinilivylaurens.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/opinilivylaurens.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/opinilivylaurens.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/opinilivylaurens.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/opinilivylaurens.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/opinilivylaurens.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/opinilivylaurens.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/opinilivylaurens.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/opinilivylaurens.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/opinilivylaurens.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/opinilivylaurens.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/opinilivylaurens.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/opinilivylaurens.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=35&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/e-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67becbefa5487e564c17fdd0122c5b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujizatajaib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-saat-syuting-untuk-program-tv-kabel-di-jawa-barat.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Livy Laurens saat syuting untuk program tv kabel di Jawa Barat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>F. AGAMA DAN SENI-BUDAYA</title>
		<link>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/f-agama-dan-seni-budaya/</link>
		<comments>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/f-agama-dan-seni-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 14:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujizatajaib</dc:creator>
				<category><![CDATA[F. AGAMA DAN SENI-BUDAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://opinilivylaurens.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[NATAL BUKAN BUDAYA BARAT Oleh : Livy Laurens Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (24 Desember 2009) Perayaan Natal serasa hampir identik dengan lagu-lagu seperti O Holy Night, Jinggle Bell, Let it Snow dan sebagainya. Natal juga tak lepas dari kehadiran gemerlapnya pohon Natal bersalju dan sosok Sinter Klas yang lucu. Suasana pesta dan menguatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=31&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-kanan-setelah-konser-natal-bersama-musisi-anky.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32" title="Livy Laurens (kanan) setelah konser Natal bersama musisi Anky" src="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-kanan-setelah-konser-natal-bersama-musisi-anky.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>NATAL BUKAN BUDAYA BARAT</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh : Livy Laurens</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (24 Desember 2009)</p>
<p>Perayaan Natal serasa hampir identik dengan lagu-lagu seperti <em>O Holy Night</em>, <em>Jinggle Bell</em>, <em>Let it Snow</em> dan sebagainya. Natal juga tak lepas dari kehadiran gemerlapnya pohon Natal bersalju dan sosok Sinter Klas yang lucu. Suasana pesta dan menguatnya konsumerisme membalut perayaan ini. Bukankah itu budaya Barat, lengkap dengan gaya kapitalistiknya?</p>
<p>Bias kultural seperti itu sebenarnya bisa kontraproduktif bagi pertumbuhan iman para pemeluk agama Kristen yang merayakan Natal itu sendiri. Akan pula muncul stigma yang mencap Natal dan bahkan agama Kristen sebagai budaya Barat. Itulah sebabnya dulu di Indonesia agama Kristen dianggap sebagai agama para Penjajah yang notabene adalah bangsa-bangsa Eropa (Belanda, Inggris, Portugis). Padahal Natal bukanlah produk Barat dan bukanlah sebuah kebudayaan manusia.</p>
<p>Natal dalam agama Kristen adalah peringatan tentang kelahiran Yesus Kristus yang secara historis dipercaya terjadi sekitar dua ribu tahun silam. Dalam iman Kristen, Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan Tritunggal (Bapa-Anak-Roh Kudus) sangat mencintai umat manusia yang sudah berdosa dan tidak bisa menyelamatkan diri sendiri dengan upaya-upaya agamawi. Karena itu Tuhan YME memberikan diri-Nya sendiri (Pribadi Sang Anak) untuk menjelma menjadi manusia melalui perantaraan Bunda Maria. Anak illahi yang lahir itu kemudian dinamai Yesus Kristus yang hidup di muka bumi sampai kemudian mati karena disalibkan, hidup lagi, dan naik ke sorga. Dalam iman agama Kristen, Yesus Kristus dipercaya sebagai Tuhan yang menebus dosa manusia melalui kematian dan kebangkitannya di kayu salib.</p>
<p>Persoalannya adalah singgungan budaya yang terjadi dalam karya Tuhan atas kehidupan manusia tersebut. Secara historis, menurut Alkitab, penjelmaan Yesus Kristus itu terjadi melalui perawan Maria yang adalah orang Yahudi. Yesus pun tumbuh dewasa sampai mati dan bangkit lagi di lingkungan bangsa Yahudi. Waktu itu sebagian kecil orang Yahudi menerima-Nya sebagai Tuhan dan kebanyakan orang Yahudi lainnya menolak dan bahkan menyalibkan diri-Nya. Adapun karya penyelamatan Yesus Kristus sendiri adalah untuk umat manusia, bukan hanya untuk orang-orang Yahudi saja.</p>
<p>Singgungan budaya itu menyebabkan wajah kekristenan pada masa-masa awal perkembangannya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Yahudi. Namun, sejak awal pula para rasul pengikut Yesus sudah menekankan bahwa agama Kristen bukan agama Yahudi dan bukan pula budaya Yahudi. Tuhan Yesus pun memerintahkan para murid-Nya untuk menyebar ke berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.</p>
<p>Ternyata perkembangan Kristen selanjutnya lebih banyak merambah ke daerah Barat (Eropa). Bahkan Eropa menjadi pusat perkembangan agama ini. Dari bangsa-bangsa Barat itulah agama Kristen kemudian disebarkan ke seluruh dunia sejak abad ke-16. Para pemberita agama itu tidak hanya mengkomunikasikan sistem kepercayaan Kristen namun juga membawa budaya Barat yang membalut dan mewarnai kemasannya. Itulah sebabnya Hari Natal di Indonesia yang beriklim tropik ini dihiasi dengan pohon-pohon Natal yang berselimutkan salju. Natal yang dirayakan di desa-desa pun disemarakkan dengan lagu-lagu Natal produk Barat.</p>
<p>Kekristenan pada dasarnya bukan kebudayaan. Natal bukanlah budaya Barat. Malahan kehadiran agama Kristen semestinya memberi penguatan terhadap budaya-budaya lokal yang ada, meskipun bukan lantas membangun sinkretisme baru. Natal bisa dirayakan dengan budaya apa saja. Tidak harus dengan musik populer misalnya, dengan musik etnik atau iringan gamelan bisa jadi justru lebih menarik. Natal bukanlah suatu momen untuk memasukkan-memaksakan budaya Barat di negeri ini.</p>
<p>Natal adalah penetrasi Sang Khalik untuk menawarkan sebuah jalan keselamatan dalam hal mana penawaran itu sendiri tidak pernah bersifat memaksa. Jadi Natal jelas tidak boleh menjadi sebuah penetrasi budaya asing untuk masuk di negeri kita yang sudah sangat kaya akan keberagaman budaya. Kekristenan harus sangat ramah, menghormati, menghargai, dan mengapresiasi semua budaya meskipun tidak lantas mengkompromikan imannya.</p>
<p>Dengan demikian Hari Natal kiranya membangun kasih sayang dalam kehidupan masyarakat kita yang sangat plural dan multikultural ini. Adapun pluralisme agama-agama yang dimaksudkan tidak boleh mengerdilkan iman setiap agama. Menurut Alwi Shihab sebagaimana dikutip Ma’arif (2005), pluralisme tidak boleh disamakan dengan relativisme yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, dan bukan pula sinkretisme. Pluralisme adalah penghargaan dan keterlibatan aktif dalam kenyataan kemajemukan masyarakat tanpa memaksakan sebuah keseragaman agama dan budaya.</p>
<p>Bagi pemeluk agama Kristen sendiri, Natal yang lebih mengedepankan perayaan yang bersifat westernistik cenderung mereduksi maknanya. Natal seperti itu hanya akan diwarnai dengan pesta makan minum, baju-baju baru, dan pertunjukan-pertunjukan hiburan. Padahal Yesus sendiri lahir di tempat yang sederhana di sebuah kandang domba yang sepi dari hiasan warna-warni. Tuhan tidak tertarik dengan materialisme. Kehadiran-Nya pun menjangkau kaum papa yang sederhana. Semoga Natal kali ini dirayakan dengan sikap-sikap budaya yang lebih arif. Selamat Hari Natal 2009.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/opinilivylaurens.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/opinilivylaurens.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/opinilivylaurens.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/opinilivylaurens.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/opinilivylaurens.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/opinilivylaurens.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/opinilivylaurens.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/opinilivylaurens.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/opinilivylaurens.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/opinilivylaurens.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/opinilivylaurens.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/opinilivylaurens.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/opinilivylaurens.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/opinilivylaurens.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=opinilivylaurens.wordpress.com&amp;blog=9747599&amp;post=31&amp;subd=opinilivylaurens&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://opinilivylaurens.wordpress.com/2010/01/22/f-agama-dan-seni-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67becbefa5487e564c17fdd0122c5b91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujizatajaib</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://opinilivylaurens.files.wordpress.com/2010/01/livy-laurens-kanan-setelah-konser-natal-bersama-musisi-anky.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Livy Laurens (kanan) setelah konser Natal bersama musisi Anky</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
